Pemdes Karangpapak dan Cimaja Dituntut Terbuka Soal Objek Tanah Adat Hak Milik Nyi Eni

Berly Lesmana Kuasa sekaligus Ahli Waris Nyi Eni. Foto : Ist

PALABUHANRATUONLINE – Tanah adat hak milik Nyi Eni Binti Edi (almarhumah) lebih kurang seluas 442 hektare di Desa Karangpapak, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, diduga telah beralih status kepemilikan sebelum terjadi pemekaran desa pada tahun 1980. Pihak keluarga ahli waris pun tak terima lahan kebun karet dan sereh wangi milik pribadi almarhumah tersebut dikuasai oleh masyarakat, pemerintah desa, dan Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Klaim kepemilikan beberapa bidang tanah adat tersebut dibuktikan dengan data otentik berupa kutipan Letter C, tujuh lembar surat segel pembelian terbitan tahun 1948, peta bidang, sertifikat, dan pembayaran Ipeda. Alhasil, keluarga ahli waris sejak beberapa tahun terakhir sudah berupaya menelusuri objek tanah peninggalan almarhumah. Bahkan, beberapa kali pihak ahli waris melakukan pertemuan atau musyawarah di tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten untuk mempertanyakan tanah adat hak milik almarhumah yang sebagian sudah beralih status kepemilikan.

Namun, sepanjang melakukan musyawarah dengan perangkat Pemerintah Desa (Pemdes) Karangpapak Kecamatan Cisolok yang merupakan desa pemekaran dari Desa Cimaja Kecamatan Cikakak belum pernah menunjukkan buku induk Letter C kepada keluarga ahli waris.

“Objek dan status tanah adat hak milik nenek saya, ibu Eni akan ditelusuri hingga tuntas. Upaya ahli waris menelusuri tanah hak milik ini karena dapat dibuktikan dengan data otentik,” ujar Berly Lesmana, salah satu cucu almarhumah Nyi Eni sekaligus kuasa ahli waris kepada wartawan, Senin, 15 Januari 2024.

Berly membeberkan, beberapa bidang tanah adat hak milik perorangan perolehan tahun 1938 yang dijadikan kawasan kebun karet dan sereh wangi tersebut terdapat di Blok Marinjung, Blok Batu Datar, dan Blok Pasir Ipis, Desa Karangpapak. Namun, pada 1938 di masa pemerintahan Hindia Belanda, objek tanah yang dibeli Nyi Eni itu berada di wilayah administrasi Desa Cimaja, Kecamatan Cisolok. Sedangkan Desa Karangpapak baru dibentuk tahun 1980 hasil pemekaran dari Desa Cimaja yang sekarang masuk ke wilayah Kecamatan Cikakak.

“Fakta ini sebagai modal kami untuk mempertahankan hak hingga seluruh objek tanah peninggalan ibu Eni bisa dikuasai kembali oleh ahli waris,” ucapnya.

Dijelaskan Berly, tanah adat seluas 442 hektare yang dibeli oleh neneknya dituangkan dalam surat berharga berbentuk segel tahun 1948 sebanyak tujuh lembar. Segel pembelian tanah tersebut ditandatangani pemilik awal selaku penjual, Kepala Desa Cimaja, Camat Cisolok, dan para saksi.

“Peralihan hak atas tanah dari pemilik awal kepada ibu Eni telah memenuhi ketentuan hukum perdata dan punya kepastian hukum. Sehingga surat segel itu tidak ada kedaluarsanya. Bahkan sejak segel dibuat hingga saat ini, tidak ada satupun pihak penjual menggugat kembali kepemilikan tanah nenek saya,” ungkapnya.

Menurut keterangan Nyi Eni semasa hidupnya, kata Berly, pihak lain yang menguasai sebagian tanah neneknya sudah berlangsung sejak 1972. Kala itu, neneknya didatangi oknum perangkat Desa Cimaja untuk menyampaikan bahwa tanah kepunyaan Nyi Eni terkena pemutihan dan diambil-alih oleh pemerintah berdasarkan PP Nomor 10 Tahun 1961 dan Undang-undang Landeform Tahun 1963.

“Siasat oknum desa itu justru diduga ingin merampas dan merebut tanah hak milik nenek saya. Faktanya, Letter C dan Persil atas nama Nyi Eni Binti Edi di buku induk desa telah dicoret dengan akronim KS (kasih). Padahal, semasa hidupnya, nenek saya tidak pernah memberikan, menghibahkan, maupun menjual tanah miliknya kepada siapapun,” tegasnya.

Setelah peristiwa 1972 Nyi Eni hanya mendapat penyisihan tanah seluas 15.850 meter persegi tercatat di Letter C 795 Persil 228. Sedangkan dua orang anaknya yaitu Kikih Sukendar memperoleh 19.500 meter persegi tercatat di Letter C 759/2383 Persil 132 dan Iyok Rosilawati hanya disisihkan seluas 14.400 meter persegi yang tertuang dalam Letter C 760/2386 Persil 132. Penyisihan tanah dilakukan oleh oknum perangkat Desa Cimaja pada masa itu.

“Memang dari tiga bidang tanah itu, baru kakak orang tua saya atas nama Kikih yang sudah memiliki buku sertifikat terbitan tahun 1978. Anehnya, tanah hak milik nenek dan orang tua saya yakni ibu Iyok Rosilawati telah dikuasai oleh pihak lain hanya bermodalkan bukti SPPT saja. Padahal, tahun 1990 keluarga sudah mengajukan pendaftaran penegasan hak atas nama Nyi Eni Binti Edi kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Sukabumi, tapi fakta di lapangan tanah nenek dan orang tua saya malah sudah beralih kepemilikannya,” tutur Berly.

Kendati begitu, anak dan cucu Nyi Eni tetap akan memperjuangkan dan mempertahankan tanah hak milik keluarga tanpa berbatas waktu. Selama ini, pihak ahli waris telah menguasai kembali sebagian objek tanah kosong di Blok Marinjung yang mencapai puluhan hektare.

Sebagai informasi, para ahli waris masih menyimpan utuh data otentik ratusan hektare tanah peninggalan almarhumah di Desa Karangpapak, Kecamatan Cisolok. Kepemilikan tanah tersebut dibuktikan dengan tujuh lembar surat segel pembelian tahun 1948, Letter C 795, Letter C 759, dan Letter C 760, peta bidang, buku sertifikat terbitan tahun 1978, penegasan hak dari Kantor Pertanahan Kabupaten Sukabumi, nama wajib Ipeda, serta bukti pembayaran Ipeda.

Adapun silsilah keluarga Nyi Eni Binti Edi memiliki tujuh anak dari hasil perkawinannya dengan Dahlan alias Liam Jin Ho. Berikut nama-nama ahli waris di antaranya Kim Sujana (almarhum), Solihin, Linda, Kikih Sukendar (almarhum), Herliswati, Iyok Rosilawati, dan Yanti Sumiati. Sedangkan Berly Lesmana adalah cucu Nyi Eni atau anak kedua dari pasangan Iyok Rosilawati dan Acep Mukhtar Effendi Bin Karmus alias Amek (almarhum).

Reporter: Asep Wahyu
Editor: Yan Yan

Tinggalkan Balasan